Kehidupanku, telah kususun rapi, bagaikan bata bata yang membuat istana begitu rapi. Walau orang berkata, suatu saat, istana itu dapat hancur. Namun, itu tidak hancur selamanya. Dengan kita sendirilah, istana itu dapat bangkit kembali. Namun, bagiku, saat ini, istana yang hancur itu, tidak dapat dibangun lagi. Aku tau ini buruk, Namun, aku benar benar merasa hancur.
Pagi itu, tepatnya hari rabu, semua berjalan seperti biasa. Keluargaku, pergi rekreasi, di kebun binatang. Aku, istriku, dan ananku, semuanya sepertinya begitu menikmati hari ini. Yah, badai itu selalu datang, dan membuat sangat terkejut. Shock tepatnya.
Hanya dengan satu kelalaianku, hampir semua, kehidupanku hancur. Raib. Musnah. Ini tidak adil! Istri dan ananku, yang umurnya saja, belum mencapai 1 tahun, meninggalkanku. Setelah itu, aku mengalami shock berat. Bisa dibiang, aku hampir gila. Gara gara itu, aku lupa dalam pekerjaan, dan dipecat. Aku kehabisan uang, dan berhutang dimana mana. Aku merasa jijik, pada diriku. Aku dibuang, ha?
Sepintas, aku memikirkan suatu hal, yang tidak baik. Aku akan tenang, dan semuanya selesai, jika aku menyusul keluargaku. Hahaha. Yah, itu memang ide cemerlang! Tempat yang berbatuan, dekat laut, disana lah aku berdiri. Denagn menggenakan pakaian kemeja, dan dasi, yang seharusnya sudah tidak cocok kugenakan. Angin angin serasa menariku, untuk segara pergi. Dan laut, yang ombaknya seakan meneriakan ajakan untuk segera pergi juga. Ahh.. alam memang benar benar sudah menyatu denangku.
Sesuatu, tiba tiba mengganjal pikiranku, dengan kehadiran sesosok anak kecil, kira kira umurnya 8 tahun, ia menggenakan pakaian yang compang camping, berwarna putih kelabu. Rambutnya botak, dan pandanganya polos. Namun kepolosan itu, dicampur dengan wajah kebingungan. Sepertinya, dia mencari seseorang. Bocah itu, melihat kanan kirinya, dan sesekali melihatku. Aku menjadi curiga.
Beberapa langkah tak jauh dari tempatku, aku menghampirinya. Wajahnya tertuju tepat pada mataku. Matanya biru muda sebening air laut, yang memancarkan cahaya. Dan dibandingkan mataku, berwarna coklat kelam, seperti bebatuan, aku cukup merasa kecil ditatapanya.
"He, tengil! apa maumu? Disini kan tempat berbahaya. Lihat! disekitar sini, tidak ada seorang pun selain kau, dan aku! Cepatlah pergi!" Usirku, sambil menunjuk suatu arah, yang merupakan jalan keluar.
Bocah itu hanya membalasku dengan tatapan, kebingungan.
Aku terdiam. Sambil menuggu jawaban, darinya.
"Tuan, apakah aku boleh kembali bertanya?"
Aku merenggangkan tanganku, yang tadi menunjuk ke suatu titik.
"Tuan, kau tadi mengatakan, 'disini tempat yang berbahaya', bukankah harunya tuan, juga tidak ada berada disini?"
"Apakah aku harus menjawab paertanyaanmu?" Jawabku dengan wajah bengis.
Lalu, anak itu, menggangukkan wajahnya dengan senyuman lebar. Seakan ia benar benar 'butuh'untuk tau.
"Hidup itu membuatku capek"
"Lalu tuan, apakah itu jawaban dari pertanyaanku?"
"Kenapa kamu benar benar ingin mencampuri urusan orang dewasa?! Urusanku terutama!"
Bentaku, padanya.
Dahinya mengerut, ia menghela nafas panjang, sebelum menjawab pertanyaanku.
"Tuan, kenapa tuan tidak mensyukuri hidup tuan?"
Oh, mataku terbelalak. Apa maksud bocah ini? Tanpa pikir panjang, aku berjalan ke arah mobilku, dan tidak menghiraukan anak sinting itu. Mesin mobilku nyala, dan mulai melaju.
Kurasa, aku sudah lumayan jauh dari tempat itu. tiba tiba, aku melihat anak itu berdiri di pinggir jalan raya. Apa apaan dia? Siapa dia?! Mau apa dia?! Aku tidak akan pernah mau berurusan dengan si tengil itu. Dia telah meng-gagalkan rencanaku! Jadi, ketika aku berpapasan denganya, aku hanya melewatinya, tanpa sedikitpun menoleh padanya.
Beberapa kilo kemudian, aku merasa lapar. Jadi aku hentikan mobilku, yang sepertinya sebentar lagi akan disita, karena hutang hutangku. Ku berhentikan mesinya, dan memparkirkanya di pinggir jalan, dekat mcdonals. Aku pun mulai berjalan menuju tempat itu. Ketika aku memesanya, dompetku benar benar isinya hanya ada $20. Dengan wajah kecewa, aku memutar kembali badanku. Sepertinya aku akan mati kelaparan.
Oh tidak, sepertinya dia anak gila! Bocak compang camping itu, berdiri di sudut ruangan, dengan lagak yang sama persisi ketika aku ada di dekat lautan itu. Dia mencari seseorang, dan seseklai menatapku, kebingungan. Saat itu, kami tertuju pada pandangan yang sama, dan aku langsung gugup, dan keluar dari ruangan ini. AH! aku frustasi! ada apa dengan dunia ini!?
Ku masuki mobilku, menghela nafas, tuk mencoba menenagkan pikiran, dan itu sama seklai tidak mempan.
"AAAA!" Jeritku terkejut, ketika aku melihat sesosok bocak tengil duduk di kursi belakang mobilku, dan ternyata itu adalah bocah sinting!
"UNTUK APA KAMU MENGIKUTIKU?!" bentaku yang keras sekali. Sepertinya seluruh kota ini mendengarnya.
"Tuan! belikan aku makanan! itu, seperti yang dimakan orang itu!" perintahnya, dan memberi tahuku bahwa makanan itu adalah hamburger, sambil menunjuknya.
"Enak aja! Uangku habis. beli saja sendiri, dengan mengikuti mereka. Seperti yang kau lakukan padaku."
"Ah.. ayolah tuan."
oh, perasaan macam apa ini. Aku tidak boleh iba dengan perintah anak manja satu ini.
"aku bilang tidak!" bentaku sekali lagi. Akhirnya anak itu dengan wajah sedih, melangkah keluar dari mobilku. Bukan lagi rasa iba kurasa, oh, aku tau, sekarang tuhan berpihak padaku! hahhaa! pergilah anak sinting!
Lho?! ternyata tuhan tidak lagi berpihak denganku! Lihat! mobilku bensinya habis!!! ohh! Sementara aku disini, dengan uang $20 mana bisa membeli bensin?! oh, okay, aku berdiam disini, memikirkan cara agar anak itu tidak mengikutiku, dan aku mati! yes! Sesekali aku melirik tanpa sengaja ke bocah itu. oh buat apa aku melihatnya? apa lagi memperdulikanya! Namun, pandangan ini, tak pernah lepas sedikit pun darinya, yang sedang mencoba 'mengemis' di setiap orang. Dan dia gagal.
"Belilah" Kataku padanya, serta memberikan uang $20 itu. Wajahnya yang lugu itu menatapku. Dia tersenyum, bagaikan malaikat kecil yang tak pernah ku lihat. Dia meraih uang itu, dan tersenyum makin lebar.
"Tuan, terima kasih. kau memang baik."Dia berlari kecil ke arah, seseorang yang jualan hamburger, dan tidak lama ia tunggu, segeralah bocah itu mendapatkan, apa yang ia inginkan. dengan lahanpnya ia memakanya. Aku tau, dia sangat bahagia. Ya.. seperti apa yang dulu aku rasakan. Setiap aku mengingatnya, aku tak bisa menghentikan air mataku yang pasti jatuh. Aku memang lemah.
"Tuan, aku menyisakan ini untuk anda" Tangan mungilnya yang menggengam burger itu, menjulur padaku.
Sambil kuusap air mataku, ku raih burger itu. walau hanya sedikit, aku merasakan bahagia. Ya.. hari ini, aku mulai merasakan rasa berbagi lagi, seperti dulu, aku dan keluargaku.
"Tuan, makanlah ini, hentikanlah kesedihanmu! Apakah aku membuatmu menangis?" Sekarang, senyumnya, berubah menjadi kekhawatiran.
"ahaha.. tidak. Terima kasih." Ku raih burger itu, dari tanganya. Sambil kuusap air mataku, aku melahap burger ini. Ya. merasakan nikmat. Nikmat diantara kehancuran. Aku tidak tahu, ternyata tuhan masih peduli kepadaku. Aku kira, semuanya sudah pergi. Seperti yang dilakukan semua orang padaku. kecuali si tengil ini.
Setelah aku menghabiskan ini, aku sgera pergi dengan menggandeng tangan anak ini. Aku tidak tau, mungkin kami akan mati bersama. Apakah itu mati dengan bahagia, atau dengan menyedihkan. Memang benar takdir tidak dapat berjalan sesuai apa yang kita inginkan. Kadang, takdir itu memenuhi apa yang kita impikan, dan kemudian balada itu datang. membelokan jalan takdir yang kita tempuh. Namun, semakin bodohnya kita, Jaln yang berluki, dapat menjadi lebih rumit, dan berliku semakin banyak. Diujung jalan itu, pasti, ada pilihan bahagia, atau tidak. itu memberikan kita pilihan, mati dengan bahagia, atau mati dengan menderita. Itu pun tergantung pada kita sendiri. Mungkin, aku sedang dalam perjalanan yang rumit sekali, dan diujung jalanku itu adalah mati dalam ketidak bahagiaan.
Hari sekarang sudah menjadi gelap. Di jalan yang kuarungi, benar benar gelap gulita. Cahaya bulanlah yang meneranginya. Andai aku adalah malam ini, mungkin bocah ini adalah bulanya. Sekalipun cahaya nya hanya kecil, dan tertutupi oleh daun daun pepohonan, sehingga hanya dapat masuk sedikit, itu sudah menerangi jalanku.
Kami berjalan cukup jauh. Dari tadi, sebenarnya, kita tak memiliki arah tujuan, dan akhrnya, tersesatlah jawabannya. Hutan lah tempat kami berada. Yah, dingin sekali, aku khawatir bocah ini kedinginin, dan nyatanya, dia memang kedinginan.
Berjalan, berjalan, dan terus berjalan. Cahaya berbentuk gambar plus, berwarna merah terpapar jelas di ujung jalan mengerikan ini.
"Ah! bocah! lihat, disana ada rumah sakit!" Kataku dengan semangat. Sementara, terlihat jelas dari wajah anak itu, begitu pucatnya. Bibirnya putih, tanganya dingin, dan sekujur tubuhnya menggigil. Aku pun memintanya menaiki punggunung ku, untuk menggendong. Segeralah secepat kilat aku berlari ke arah rumah sakit itu.
Tuhan pun benar benar tidak adil! Rumah sakit itu sudah tutup! Terpaksa, aku hanya duduk dan merebahkan tubuh si kecil ini. Terdengar dari kejahuan suara langkah sepatu high heels. Aku mencari di sekelilingku. Jangan jangan hantu dengan high heels. Rumah sakit kan rawan dengan itu.
"Mr, apa yang kau lakukan disini?" Kata seorang ibu ibu, mungkin dia seorang dokter yang akan pulang dari perkejaanya. Ya karena dia belum mencopot jasnya. "Siapa bocah itu? Apakah di masih hidup?" Suaranya datar, dan bernada canggung.
Mataku yang telah tertuju padanya, kemudian melihat bocah ini yang sedang berbaring.
"Aku tak mengnalnya. Bahkan namanya saja aku tak tau. Dia mengikutiku. Karena aku merasa iba, aku pun mengajaknya. Jalan jalan."
"Jalan jalan? kemana? apa kau tersesat?" Tanya nya lagi dengan nada yang sama.
"Tanpa tujuan." Jawabku singkat. Raut wajahnya menjadi aneh. Dia pun mengajak ku untuk masuk. Mungkin dia juga merasa iba padaku, dan anak ini. Ya, dia memang iba. Wanita ini mempersilahkanku tidur di gudang yang hangat. Selama malam berlanjut, aku dilarang berkeliaran di rumah sakit ini. Apakah aku terlihat seperti anak kecil, yang suka berlari lari, dengan wajah tidak berdosa?!
Berjam jam lamanya, aku terjaga di ruangan gelap ini. Dan hanya ada 1 jendela. Apakah ini benar gudang? Mengapa banyak sekali buku gambar.. Cat warna, buku, barnbie.. Aku benar benar tidak bisa tidur. KROMPYANG! Suara seperti kaleng berjatuhan. Aku tersentak kaget. Dengan perlahan, aku membuka pintu. Siapa yang salah, jika menyangka, itu adalah hantu? Aku berjalan dengan mengendap endap, dan tubuhku merinding semua. Disitu, ada pertigaan, gimana kalo ternyata hantunya ada di situ. Oh my my my.. ternyata seorang gadis, kira kira berumur 10 tahun, menggenakan baju siap oprasi. Rambut lurusnya yang berwarna hitam perkat tergerai berantakan. Aku pun mendekatinya. Matanya hitamnya terlihat kesepian.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku, yang berjalan kearahnya.
"Kau sendiri? Ngapain disini?" Tanyanya kembali, tanpa belum membalas pertanyaanku. Oh, anak jaman sekarang selalu membalas bertanya, padahal belum membalas pertanyaanku. Dia bilang 'kau' dengan suara menggapangkan lagi!
"Oh, dunia pasti sudah gila. Telingaku barusan mendengar, anak ini berkata 'kau' padaku! Mana sopan santunmu, woy?"
"Ah!" Keluhnya, sambil memegang perut sebelah kiri. "Sudahlah. Nggak usah ikut campur urusanku!" Anak itu membantahku, lalu berjalan melewatiku.
"Wendy! Wendy! Jangan kabur!" Terdengar suara panggilan, untuk orang bernama wendy, dari lorong yang telah gadis kecil itu tempuh. Kemudian, anak itu pun mempercepat jalanya. Dari Lorong gelap itu, mulai terlihat sosok remaja perempuan, yang meraba raba dinding. Ya, dia buta.
"Wendy kemarilah!" Ajak remaja itu.
"Permisi." Kataku, pada si buta.
"AHH! SS...SIAPA..?!" Tanyanya terkejut.
"Maaf.. aku bermalam disini, karena tersesat. Bolehkah aku bertanya?"
"Ya.."
"Anak itu, adikmu?"
"Ya. Bawalah dia kemari! Aku tau dia pasti sangat tersiksa! Tolong bawalah dia kemari..!" Pintanya.
"Kembalilah ke kamar. Aku akan membawa adikmu."
15 menit aku mengelilingi rumah sakit ini.. Dan wendy tidak ada. OHHHH..!! anak gila! buat orang khawatir aja! Oh tidak, aku lupa soal bocah tengil itu! AKU FRUSTASI AKAN KEHADIRAN DUA BOCAH YANG MEMBUATKU SEMAKIN GILA!
Saat aku ekmbali ke gudang, ternyata wendy, dan si tengil sedang bermain bersama.
"Hai, apa kau sudah capek mencariku?" Sindir wendy.
"AHAHA.. aku tidak capek. Aku mati." Jawabku ketus. Namun wendy tidak menghiraukan ku! Dia malah asyik asyiknya menggambar, dan si tengil itu dengan tidak berdosanya, ikut bermain bersama wendy! "APA KAU TIDAK MEMIKIRKAN BAGAIMANA PERASAAN KAKAKMU?! DIA PENUH BAYA MENGEJARMU! DAN SEKARANG KAMU ENAK ENAKNYA BERMAIN! OH, KAU JUGA! HARUSNYA KAU PRIHATIN PADAKU!" mataku lalu tertuju pada si bocah tengil. Senyum cerianya, mulai memudar dan berubah menajadi cemberut.
"Apa peduliku sama kakak?" Jawab wendy ringan.
" DIA MENGKHAWATIRKANMU, IDIOT!" bentaku.
"DIA SAMA SAJA SEPERTI IBU, BEGO!" wendy dengan kasarnya membentaku juga. Tapi, apa maksudnya, 'sama dengan ibu..?' to be continued.. 'angel part 2'
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Comment:
Posting Komentar
Apa komentar kaliann..?? ~