Ya. Apa maksud 'sama dengan ibu'?
"Dapatkah kau mengulangi kata katamu?" Pintaku dengan wajah super bingung.
"Orang besar bodoh." Ejek nya dan terus melanjutkan gambaranya.
"Kau tidak mengatakan hal itu sebelumnya" Suaraku tertekan, yah, aku harus menahan kemarahanku.
"aku tidak akan mengulangi kata kataku."
"Fine. apa maksudmu 'sama dengan ibu'?"
"Sudah kuduga, kau memintaku untuk mengulangi kata kataku hanya untuk basa basi. Dan untung saja aku tidak menjawabnya. Itu kan nggak penting."
"HA-HA-HA" tawaku membesar, dan terpaksa. HAHA, anak kecil yang polos. "Hal itu selalu dilakukan ketika seseorang terkejut, dan scock! Sekarang jawab pertanyaanku!"
"Bodoh.. Kau sudah bertanya, dan membentak. Kira kira, dengan cara seperti itu, apa aku harus menjawabnya?"
Gadis ini, semakin membuatku kesal! Kenapa dia tidak mengerti perasaan kakaknya! Aku kan berusaha membantu! Apa aku harus meluapkan kemarahanku?
Tidak tidak tidak. sebaiknya memang tidak!
"Hmm.. aku tidak akan marah. jawablah pertanyaanku"
"Urusan pribadi" Jawabnya singkat
"Setidaknya aku dapat membantu"
"KAU BELUM TENTU BISA MENGURUSI HIDUPMU! DAN SEKARANG, KAU MAU MENCOBA MENGURUSI HIDUPNYA ORANG LAIN?! KONYOL!" bentaknya. Aku pun terpaku. Seakan aku bisu. Yah, tak ada sepatah kata dapat keluar. Aku membeku disini. Mengapa anak kecil ini bisa bisanya berkata seperti itu.
.... Wendy benar.
"HA?! sekarang kau mau berkata apa tuan?! Bisu! Aku benar! Kau salah!" Olok wendy dengan menunjuk nunjuk padaku. Tapi semua itu benar. Aku salah. Aku goblok. hahha..
"Sekalipun aku bercerita tentang aku, Kau.. Mana peduli kau denganku?! Mati saja! MATI!" Kalimat kalimat itu mengalir dari bibir wendy. Aku menerima segalanya, karena itu.. memang betul sekali..
"Wendy.. cukup." Bocah itu meminta wendy, dengan menggengam tanganya. Namun, wendy melepaskanya dengan kasar
"AKU TIDAK PUAS!" "IBUKU MEMBUATKU SENGSARA, DIA MEMBUAT HIDUPKU PENDEK DAN MENDERITA! DAN KAKAK... DIA MEMBANTU IBU! DAN SEKARANG.. AP..A.." suara lantangnya mengecil ketika dia sadar. Dia keceplosan. Semuanya terbongkar. Kedua tanganya menutup mulutnya yang membisu sekarang.
"Wendy, sekarang kita tau.." Ucap bocah tengil itu, yang memebelai tangan wendy. Namun, wendy hanya mematung. Tanpa ia ketahui, air matanya jatuh. 1.. 2.. tetes.. dan kemudian, ia bergetar ketika wendy tau. Ia menangis. Semuanya ia luapkan disitu. Semakin lama, dia merasa puas. Tidak, dia nggak puas sama sekali.
Aku berjalan mendekati wendy, menyerahkan tangan kotorku di atas kepalanya.
"Kau lega wendy?" Dia terdiam dan tidak menjawab. Tangisnya, menandakan itu adalah penderitaan yang amat mendalam. Mungkin, aku emmang tidak dapat membantu. Mendengar ceritanya saja, tidak akan mengurangi penderitaanya. Aku memang tidak berguna. Bagi siapa pun.
Dia mengangkat kepalanya perlahan. Matanya benar benar merah.
"katakan saja.." Kata bocah tengil itu.
Wendy menghela nafas panjang, sebelum memulai bercerita.
"Ibuku, memberikan segalanya yang aku punya. Tapi, dia tidak melihat kearahku. Uang! Saja pikirnya. Ia hanyaa berpikir, aku dan kakak adalah penghasil uang! Atas segalanya! Apa salahnya aku berharap.. APA SALAHNYA AKU BERHARAP UNTUK MHIDUP?!" Ruangan sekarang menjadi hening. Aku meremas tanganku, aku menyesal telah bertengkar dengan gadis yang hebat ini. Matanya, memancarkan ketegaran, namun, didalamnya terdapat cahaya kesepian. Andai saja, cahaya itu dapat redup, itulah harapanku. Namun disini, cahaya itu makin bersinar, sampai sampai, aku tidak tahu harus berkata apa.
"Wendy, baiknya kau ceritakan saja" Bocah tengil itu memecah kesunyian, dengan suara polosnya.
"Tapi.. bangaimana aku harus bercerita. Aku bingung!!" dengan kepanikan dan suara wendy yang serak, kesyunian itu semakin memudar.
"Lalu, apa maksud dari kata katamu tadi?" Tambah ku
"Ah.. Itu.. soal ibu. Beliau.. tidak peduli padaku"
"Hanya itu? Itukan, masalah simpel, dulu waktu aku kecil, ibuku tidak peduli padaku. Tapi..."
"MATAMU HAH?!" oh tidak, apakah aku mengucapkan subuah kesalahan? Sekarang gadis bertubuh mungil itu marah. Ya, marah besar. Karenaku. "TUH KAN! ITU ADA;AH ALASAN KENAPA AKU BENCI BENCI BENCCCIII DAN MUAK UNTUK BERCERITA, PADA ORANG DEWASA! MEREKA, BENAR BENAR TIDAK PEKA! TERUTAMA KAU! KAU MENYEPELEKAN URUSANKU! DAN SEBAIKNYA AKU TIDAK PERNAH... TIDAK PERNAH... MELIHATMU SAJA!" Aku sempat berpikir balik, mungkin aku memang yang salah, tapi kenapa aku begitu GOBLOK mengucapkan kata kata seperti itu. Sekarang ia berdiri dengan kakinya yang putih pucat, dan berjalan kearahku, rambutnya tergerai melambai lambai, pandangan sekarang berubah drastis, ia seperti ingin membunuhku, aku ngeri melihatnya. Tapi dia berhenti sejenak dihadapanku,
"KAU... AKU TIDAK.." nafasnya terhenti, wendy sepertinya kecapekan untuk marah marah padaku. "AKU.." tanganya menghantam perutku, namun tangan kecilnya itu, tidak menghasilkan reaksi apa apa padaku. Aku sempat berpikir, apakah dia memukulku?
"AKU TIDAK.. AKAN.." wajahnya terangkat, penuh keringat pada keningnya, dan air matanya serasa tidak akan pernah mau berhenti. "AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAFKANMU!" setelah dia berteriak sekaras mungkin, untuk mengucapkan kata kata itu, tubuhnya mendingin, tubuhnya lemas, dan.. pingsan. Dengan tololnya, aku mundur beberapa langkah, dan membiarkan badan wendy tergeletak,
"Ah. apa yang harus ku lakukan?????" Aku mulai panik.
"Tuan, tolonglah wendy, mungkin.. dia sekarat." Tangan seorang bocah menarik lengan bajuku, dan wajahnya penuh permohonan.
"Apakah aku bego?" Tanyaku terbata bata
"Tuan sangatlah bego." Bocah itu menangis.. Oh tuhan, kenapa malam ini bagaikan malam penuh tangisan. Aku bingung apa yang harus ku perbuat. Wendy telah marah padaku, dan sekarang bocah ini menangis TANPA ALASAN! semuanya membuatku repot! Ish! Aduh, apa ini? aku merasakan pukulan pukulan kecil sekarang, hahha.. anak kecil dungu ini memukul betisku.
"Baiklah baiklah, ayo kita keluar sekarang." rayuku, untuk memberhetikan pukulan anak itu.
"tuan itu benar benar idiot" tanganya, bukan berhenti, dan sekarang dia memukul wajahku. Aku merasakan amarah yang besar.
"APA SEH MAUMU ITU?"
"tuan, selamatkan wendy.." Aku menoleh kebelakangku, dan melihat, siapakah yang aku belakagi itu-Wendy. Aku beru tersadar, mukan saatnya untuk benci padanya. Bila nanti ia meti, semuanya pun kembali padaku.
Saat diruangan dimana tempat tidur wendy berada, dan terlihat kakak wendy sedang benar benar khawatir, aku berjalan untuk segera meletakan wendy yang sekarang itu. Kakaknya tidak bisa melihat itu, tetap saja khawatir. Mungkin, bila ia melihat keadanya sekarang, dia bakal 2 kali lebih khawatir. Fyuuhh.. untung saja dia tidak melihatnya.
"mr, wendy gimana? dia begitu dingin.." Tanganya kakaknya yang memegang tangan wendy, mulai bergetar.
"itu mungkin salahku. aku mengabaikanya, dan membiarkanya marah. Dia benar benar membuatku, ke.." PLAK! tangan wanita ini menamparku. namun, itu tidak tepat, ia menampar kening bagian kiriku. Tapi.. itu cukup sakit. Mungkin dia ber-amarah.
"BEGO BEGO! BESOK KAN DIA SIAP OPERASI! KAU MEMBUATNYA SEMAKIN MENDERITA!"
"operasi? hah?" Tanyaku
"dia.. akan menyumbangkan ginjal teakhirnya, pada seseorang!" Kata kata yang baru kudengar barusan, membuatku terpaku. Betapa bodohnya aku tadi menyepelekan masalahnya dia.
"Tenanglah, aku ingin bertanya.." Aku berkata selembut mungkin. Agar wanita ini tidak semakin brutal, mungkin saja dia tidak hanya menamparku, mungkin memukul, mnginjak kakiku, atau membunuhku? Oh ya, aku bisa kabur darinya, dia-buta. haha
"Apa" balasnya dengan nada dingin.
"Dia, sempat bercerita padaku, sebelum ia marah." Secepat mungkin, rona wajah kakak wendy yang pucat menjadi amat sangat panik bukan main.
"dia.. membenci ibunya, dan kau. " Aku menghela nafas panjang, sebelum melanjutkan ceritaku. "Dia berkata, kau sama saja ddengan ibu, dan ibu, tidak pernah peduli, dengan keadaanku sekarang. "
"Dia, selalu saja berkata seperti itu. Hari hari yang kami lewati, penuh dengan pertengkaran.." Wanita itu, mulai tenang, dia tidak marah lagi. (yay) Tanganya mengelus rambut wandy, dengan penuh kasih sayang. Aku tau, ini pasti hanya kesalah pahaman. Mereka, hanya tidak saling tau, bukan saling membenci.
"Ibu, memang terlalu keras, dan kaku, terhadap kami. sejak ayah meninggal, ia tidak peduli pada kami. Iya, tidak hanya wendy saja.. padaku juga. Ia pun mendonorkan korneaku. Hahhaa.. ironis.. Setelah itu, ia juga mengambil salah satu ginjal wendy. Aku sebenarnya mengelak urusan ibu, tapi ia malah menghajarku. Tiap hari, setelah ginjal wendy menghilang, aku menyemangatinya terus, karena badanya semakin melemah. Tapi, dia salah paham. Mungkin dia mengganggapku, membela ibu. Namun, dalam hatiku, tidak. Aku membenci ibu." Penjelasan itu cukup membuatku sadar, betapa menyesalnya aku tadi tidak menolong wendy, DAN MENYEPELEKAN MESALAHNYA. Aku hanya tertunduk dihadapan badan wendy yang lemas.
"Apa yang dapat kita lakukan.. untuk wendy" tanyaku seraya ingin nagis. Aku tidak kuat, dan air mata seenaknya meluncur keluar. Aku pun ikut membelai wendy dengan lembut.
"Sekarang, untuk wendy, tidak ada apapun yang dapat kita lakukan. Dia.. akan.. mati..... besok."
Jatungku sekarang berdebar keras. Aku tidak bisa membiarkan anak ini mati. Aku tidak maaauu.. Kenapa sekarang aku bertemu dengan masalah seperti, padahal masalahku saja belum selesai. Mungkin memang benar kata wendy, Urusanku saja, aku belum tentu bisa melewatinya, dan sekarang aku mencampuri urusan wendy, yang ditengah tengah, oh bukan di ujung kematian. Aku tidak mampu..
"Dapatkah aku keluar sebentar" Kataku dan menghapus air mataku.
"Silahkan.." Aku keluar dan mengajak bocah itu ikut denganku.
Sekarang aku berada di luar rumah sakit. Udara pun tetap dingin. Disini, aku sebentar saja ingin merilekskan pikiran. Aku duduk pada anak tangga, dan bersandar pada pillar. Kemudian, bocah itu mengikutiku duduk.
"Tuan" Sapa bocah itu
"Hm.."
"Kalau terdapat dua pilihan, tuan memilih apa, antara mati dengan sia sia, atau dengan sebuah kebanggaan?"
"Apa maksud dari pertanyaanmu..?" Tanyaku, aku tidak tau, apa yang diinginkan anak ini. Untuk apa dia bertanya seperti itu? "Ahh.. tentu saja, siapa sih yang tidak mau mati dengan.. sia.. sia.." Terpintas, aku TAU akan jawaban dari pertanyaan bocah itu. Dia pun tersenyum. Aku berdiri dan langsung lari masuk kerumah sakit, Untuk menemui wendy dan kakaknya. Di depan pintu ini, aku melihat keduanya, masih seperti tadi sebelum aku meniggalkan mereka. Aku tersenyum.. mendekat dan berkata..
"Aku tau.."
Esoknya.. Ketika wendy siap untuk mendonorkan ginjalnya, seorang wanita, datang kearah ibunya. Tak lain itu adalah kakak wendy yang, buta.
"Ibu, dapatkah kau membatalkan pendonoran ini??" Wanita itu berkata dengan sangat lembut, seperti biasa.
"Hah? Jangan bergurau."
"Kau dapat mendonorkan ginjal dari seseorang, yang golongan darahnya juga A. Seperti pasien ibu. Dia, sama sekali tidak meminta imbalan. Aku tidak ingin ibu menyakiti wendy lagi. Ibu aku mohon.."
"Siapa?" Wanita yang menggenakan jas laboraturium itu kaget. Ya, sepenuhnya kaget. Mungkin dia tidak percaya, siapa kah orang yang mau maunya memberikan ginjalnya secara cuma cuma, bahkan, mungkin pria itu sama sekali tidak tau resikonya.
"Dia, pria itu." Kakak wendy menunjukan ibunya pada seorang pria yang acak acakan.
"Kau..." kata ibu wendy dengan sangat terkejut.
Operasi pun.. berlangsung lancar. Pasien itu sekarang sehat lagi, dan memiliki ginjal yang mungkin sempurna.
"Sekarang, apakah kau merasa lega?" Tanya seorang wanita buta itu padaku.
"Sangat. Ginjalku.. sekarang tinggal satu. Aku tidak tau, bahwa dari dulu wendy itu seperti ini. Dia hidup dengan 1 ginjal saja. Rasanya, lumayan tersiksa ya. Hahahha.."
"Hahahha.. Lalu, dengan keadaan seperti ini, apa yang akan kau lakukan?"
"Hmm.. " DIatas kasur yang lembut ini aku berbaring dengan lemah, aku menatap wanita buta ini, dan beripikir, babhwa, dia, begitu cantik. Namun aku tidak akan pernah mngecewakan siapa saja. Sisa hidupku, aku akan menggunakanya, agar tidak sia sia.. "Tolong... panggilkan bocah. Bocah yang.. luar biasa itu."
Tidak lama kemudian, Bocah dengan pakaian compang camping menghampiriku. Dia berjalan langkah demi langkah, dan hampir dekat dengan ku. Aku tersyum bangga padanya. Dan wajahnya sangat kebingungan.
"Hai.." Sapaku dengan nada lemah...
"Tuan.. apa kau tidak apa apaa??" Tanyanya dengan penuh kekhawatiran.
"Ahahha.. jelas tidak apa apa dong." Jawabku, dan membelai kepalanya.
"Tuan apa yang kau rasakan sekarang.."
"Aku bahagia.." Aku pun memberikan senyuman, aku tidak tahu, apa yang dilihat oleh orang orang dari senyumku sekarang.. Yang pasti.. aku lega.
Oh, sekarang aku baru teringat akan keinganku, hasrat untuk Mati.. Setelah terpikirkan, mungkin maksud bocah ini.. dia ingin menghentikan atau mencegahku untuk bunuh diri..? Ah, tidak. Aduh, entahlah..
Tapi.. kemarin, anak ini sempat berkata, 'mati dengan sebuah kebanggaan..' Mati.. mati.. mati..
"Hhh.." Aku tertawa tipis. Mengingat ingat itu. Karena sekarang, mungkin aku telat mendapatkan jawaban, dari awal segalanya, dari dimana aku mulai mendapatkan ide 'mati dengan sia sia'. Apakah ini semua rencana dari bocah ini? Rencana yah.. Aku baru sadar, bocah ini pintar.
"Kau dari awal merencanakan sesuatu kan?" Tuduhku dangan lemah
"Rencana?" Balasnya dengan kebingungan. Sepertinya dia memang tidak merencanakan apa apa. Ya.. Bisa saja ini takdir.
"Lalu, apakah ini.. memang takdirku..?"
"Tuan.. Takdir, dapat kau rancang sendiri. Jika kau ingin sehat, maka makanlah yang bergizi, jika kau ingin sukses, maka berkerjalah yang keras, jika ingin pintar, belajarlah, jika ingin mendapat hidup sempurna.. janganlah kau sia siakan, tuan.." Sekarang aku mulai mngerti.. Karena aku sudah tidak bisa membenahi hidup sesempurna orang lain, mungkin jalan inilah yang sempurna bagiku. Aku, tidak boleh menyia nyiakanya. Aku juga teringat, akan nasehat berharga dari orang orang, jika kamu mendapat nilai jelek, kamu masih bisa memperbaikinya, dengan belajar lagi, jika kamu jatuh dalam perkerjaanmu, maka bekerjalah lebih giat, jika kamu jatuh dalam lubang yang dalam, itu bukan berarti kamu ada di dalam situ selamanya, seperti aku sekarang.. aku dalam lubang itu, dan sekarang, aku hampir ada pada tebing bagian atasnya, aku.. hampir menyelesaikan hidupku, yang tidak sempurna. Sekarang, masih belum disebut sempurna.. tapi langkah inilah yang bisa kembali menyebutnya sempurna...
"Ngomong ngomong.." Aku pun kembali menatap pada mata indah bocah itu, "Kamu itu apa..?"
"Yang aku tahu.. semua orang menyebutku, malaikat.." Ucap, malaikat kecil itu.
3 bulan kemudian..
"Kakak! Ayo aku bantu!" Ucap kata kata yang sangat bersemangat dari seorang gadis, berambut lurus dan hitam pekat. Dia berlari lari kearah kakak nya yang sedang membawa barang banyak. Kardus kardus, yang isinya.. mungkin dokumen milik ibunya.
"Hahaha.. Tidak usah, aku akan mulai membiasakan kembali melihat." Balas kakak gadis itu.
"Ahh.. Sejak hari itu, aku benar benar merasa sehat lagi." Ucap gadis kecil itu lagi, sambil membenahi topi coklatnya yang besar. "Dulu, mengingat keadanku yang buruk, dan hidup dengan 1 ginjal, semuanya terasa begitu sesak. Nggg.. Kakak.. Omong omong, siapa sih yang mau relain ginjalnya buat aku?" Tanya gadis itu, dengan membalik tubuhnya kearah kakaknya.
"Dia, mungkin seorang malaikat untukmu"
"Malaikat?" Sekarang gadis itu, dua kali lebih bingung.
"Malaikat itu, telah diselamatkan oleh seorang gadis kecil bernama wendy!"
"Ah! Jangan bergurau!" Kata wendy dengan tersenyum tersipu sipu. Mereka berlarian, dengan gembiranya.
Wendy, Kau menyadarkan betapa rumitnya hidup itu. Kamu menyelamatkan ku. Aku merasa tidak sia sia seperti dulu. Mungkin, tanpa kau, sampai sekarang, aku tidak tau dengan cara apa aku dapat menempuh hidup sempurna lagi. Kita.. Sudah impas kan..?
Dan untuk, bocah aneh itu, aku sekarang benar benar tidak tau kamu itu dimana. Mungkin, kamu juga merencanakan hal yang sama sepertiku pada orang lain? Hahaha.. konyol. Sebelum aku mendonorkan segalanya yang aku punya.
"Andaikan dulu kita tidak bertemu, Aku mungkin akan sia sia. Aku tidak akan bertemu wendy, aku tidak akan sampai ada disini. Dan aku juga..Banyak sekali mengucapkan terima kasih padamu. Aku adalah orang dewasa yang goblok.. Kamu memberitahuku, betapa anehnya hidup itu. Kamu tahu, nasehatmu, berharga" Tanpa kusadari sekarang, aku menangis. Ini, adalah tangisan bahagia..
"Tuan.. Kita bertemu bukanlah suatu kebetulan. Dan aku tidak memberimu apa apa. Aku tidak menasehatimu, dan aku tidak memberi tahumu apa apa. Sejak awal, aku hanyalah bocah yang mengikutimu kan..?" Balasnya
"Tidak. Kamu, memang seorang malaikat. " Denganku sekarang, aku punya banyak malaikat. Istriku, anak ku, wendy, dan bocah ini. Dari pada harta, dan jabatanku, inilah harta sesungguhnya.
Sebarnya, setiap orang, memiliki malaikat sendiri sendiri. Namun, terkadang, mereka tidak tahu, bahwa malaikat itu ada disisih mereka, Dan menghangatkan segalanya. Tanpa kau sadari, mereka adalah malaikat. Tidak percaya? Lihatlah sekelilingmu, mereka adalah malaikat.
TAMAT~ :D
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

5 Comment:
Dear mbak Cely..(halah)
oke,sekarang review nya
tapi jangan marah lo?
begini,setelah saya membaca(gayane lo)kedua angel ini,saya perhatikan banyak kesalahan pada penulisan. sebaiknya sebelum posting,tolong diperiksa ejaannya biar nggak salah paham (dilempar bola basket)
yang kedua,masalah ejaaan.
jika ada suatu kata(apa saja) dan huruf akhir kata tersebut 'n' maka bila ditambahi imbuhan 'nya' huruf 'n' tersebut menjadi dobel.
seperti: kata 'ejaan' ditambahi 'nya' menjadi 'ejaannya' (eh kok malah matematika?)
oke,itu saja dari saya.
aku nulinya emang kecepeten.. :D
tuh kan nulis komentar balesannya juga kurang 's'
iya iya.. -__-"
Posting Komentar
Apa komentar kaliann..?? ~